Home / Liputan Media / Polisi Tangkap Pemilik Pangkalan Elpiji ‘Nakal’

Polisi Tangkap Pemilik Pangkalan Elpiji ‘Nakal’

* Jual Gas di Atas HET

BANDA ACEH – Personel Satuan Reskrim Polresta Banda Aceh, menangkap dua pemilik pangkalan gas elpiji 3 kilogram di dua tempat berbeda di Aceh Besar, Senin (19/3) sore. Penangkapan itu dilakukan karena kedua pangkalan menjual gas elpiji 3 kg ke masyarakat, di luar ketentuan Harga Eceren Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah, yakni Rp 18 ribu/tabung.

Kapolresta Banda Aceh, AKBP Trisno Riyanto SH, menjelaskan, kedua pemilik pangkalan ‘nakal’ yang ditangkap personel Polresta itu adalah Sofyan M Jamil yang membuka usahanya di Perumahan Cinta Kasih Blok 1.3 Nomor 16 Gampong Neuheun, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Dari hasil pengembangan, polisi ikut meringkus Ridwan Hasyem, yang membuka pangkalan elpiji 3 kg di Desa Sibreh Keumudee, Kecamatan Suka Makmur, Aceh Besar, yang tidak memiliki izin.

Untuk nama pangkalan milik Ridwan Hasyem itu tertera di plang nama agen PT Minyeuk Gah, nama pangkalan Malaka Gas, alamat Jalan Leupung Cut Pasar Samahani Gampong Leupung Cut, Kecamatan Kuta Malaka.

“Di plang nama tertulis jelas HET gas elpiji, Rp 18.000/tabung. Tapi, dijual tidak sesuai dengan HET. Melainkan harganya cukup tinggi,” kata Trisno, didampingi Kasat reskrim AKP M Taufiq SIK, saat menggelar konferensi pers di Polresta Banda Aceh, Selasa (20/3).

Kapolresta menjelaskan, penangkapan Sofyan M Jamil yang membuka usaha di Gampong Neuheun itu berawal dari laporan dan keresahan masyarakat yang menyebutkan harga elpiji yang dijual, dari HET Rp 18.000/tabung yang ditentukan pemerintah. Tapi, justru dijual Rp 33 sampai Rp 35 ribu/tabung. “Berdasarkan laporan itu, petugas menuju ke lokasi dan menangkap Sofyan M Jamil, di Perumahan Cinta Kasih, Neuhuen, Kecamatan Mesjid Raya. Dari keterangan Sofyan, dia mengaku membeli Rp 29 ribu/tabung dari Ridwan Hasyem. Atas dasar itulah kami ikut mengamankan Ridwan Hasyem di Sibreh Keumudee,” ungkap AKBP Trisno.

Dari penangkapan kedua pelaku penyalahgunaan minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 dengan ancaman pidana paling lama 6 tahun dan Pasal 53 huruf C, ancaman pidana penjara 3 tahun UU RI Nomor 22 Tahun 2001, tentang Minyak dan Gas Bumi, polisi ikut mengamankan barang bukti (BB).

“Dari tempat Sofyan M Jamil, TKP di Neuheun kami mengamankan 72 tabung gas elpiji kg kosong dan satu tabung berisi gas elpiji. Lalu, dari TKP Desa Sibreh Keumudee, 240 tabung gas elpiji 3 kg kosong dan satu unit mobil pikap L-300,” demikian Kapolresta Banda Aceh

Menanggapi penangkapan pemilik pangkalan yang dilakukan aparat kepolisian, anggota DPRK Banda Aceh, Mukminan SE, yang dihubungi Serambi tadi malam mengapresiasi atas pengungkapan yang dilakukan Polresta Banda Aceh. Namun, kata anggota DPRK dari Fraksi PKS itu petugas harus terus memprioritaskan aksi-aksi berikutnya.

Hal itu, menurutnya, penting untuk tujuan menstabilkan HET gas elpiji 3 kg yang telah ditentukan pemerintah, yakni Rp 18.000/tabung serta ketersediaan barang. “Langkah dan aksi yang seperti ini yang ditunggu warga. Jadi, pengungkapan ini harus berdampak pada stabilnya harga sesuai HET dan ketersediaan barang,” ungkap Mukminan.

Dijelaskan, pemandangan selama ini dan telah menjadi rahasia umum, ada warga harus mengantre lama demi mendapatkan satu gas elpiji 3 kg serta mengeluarkan uang lebih dari HET yang ditentukan. “Tentu timbul pertanyaan, pasti ada dugaan yang tidak beres dalam pendistribusiannya. Karena, itu polisi harus ungkap tuntas aktor utamanya, siapa saja mereka. Kami juga selaku anggota DPRK akan konsisten mengawasi,” tegas Mukminan.

sumber : tribunnews.com

Check Also

Mukminan Fasilitasi Pembangunan Kuburan Umum Gampong Pineung

Bertempat di Meunasah Gampong dilaksanakan Sosialisasi rencana pembangunan kuburan umum Pineung, yang dihadari para Perangkat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *